resurrected

Jadi ceritanya begini, Minggu malam gw dan anak2 PSIK (Hari, Gantar, “om” Ical, n Echi) nonton The dark Knight. Yah emang agak telat sih kita nontonnya, hehe… tapi gapapa, tidak mengurangi maknanya ko. Entah berapa puluh kali kata umpatan, atas dasar kagum tentunya, keluar dari mulut kita sepanjang film itu.

Banyak faktor yang bikin film itu terasa dahsyat dan memprovokasi kita. Bagi gw sendiri, faktor-faktor itu diantaranya : alurnya cepet meskipun udah ketebak, special effect yang dahsyat, simbol2 yang muncul dan memperkuat penyampaian cerita (yang bikinnya orang postmo kayanya), dan sisi Batman yang lebih manusiawi (ngga komikal mungkin ya). Tapi yang sama-sama nyentil kita adalah pesan atau kalo boleh dibilang “moral lesson” dari film itu. Yah intinya adalah seorang pahlawan ga mesti punya alur hidup yang lurus-lurus aja, for greater purpose he is willing to sacrifice other important things in his life, termasuk nama baik.

Hmm… entah tapi maknanya terasa kontekstual sekali buat kita atau kitanya yang berhasil dijebak sama sang pembuat naskah. Yang jelas kita sejenis ngerasa kalo film itu kita banget gitu loch… Hahaha… sebodo amat lah, yang jelas ini jadi bahan renungan gw juga. Terlepas dari gw yang terkadang suka menanggapi sesuatu secara berlebihan hingga dikasih gelar “drama queen”, tapi somehow gw merasa bahwa jalan hidup gw dan beberapa rekan2 gw tercinta itu ngga senormal dan selurus orang lain.

Bagi gw pribadi, tahun-tahun belakangan ini ga mudah. Entah itu masalah organisasi, pertemanan, hingga ke masalah percintaan. Kalo definisi dosa adalah melanggar norma agama dan sosial, berarti tabungan dosa gw tuh banyak banget dan gw salah satu investor rutin neraka. Gw pernah merasakan terpuruk bagai ditenggelamkan ke dasar tanah, ditampar sama tuhan berkali-kali, hingga gw merasa tidak berdaya dan hidup tidak ada artinya sama sekali. Gw pernah merasa ada sebuah lubang besar di dada gw, seperti sundel bolong, dan membuat gw merasakan perasaan yang luar biasa kosongnya. Gw pernah kesel sama tuhan dan bertanya untuk apa gw dilahirkan kalo dia udah menakdirkan hidup gw sedemikian rupa. Lihat kan betapa drama queennya gw…

Sumpah deh ga enak banget rasanya! But u know what? Those days are over. Karena gw memilih untuk berkata iya lagi pada kehidupan. Bukan karena orang lain, tapi karena diri gw sendiri. Gw memutuskan untuk menang, bukan atas diri orang lain, tapi atas diri gw sendiri. Karena meskipun alur hidup gw ga lurus-lurus aja, itu ngga berarti makna dari hidup gw ditentukan sepenuhnya oleh “dosa2”, atau orang2 yang menganggap bahwa itu adalah “dosa” dan pelakunya layak dapat tiket VIP neraka durjana.

Karena, sodara sodara… ternyata dari hal yang paling pahitlah kita dapat menjadi lebih kuat (Hmm… pada prakteknya butuh keteguhan hati tingkat tinggi loh). Dan gw percaya bahwa “the force” or whatsoever, sang penulis naskah hidup kita itu, menulis cerita pahit itu untuk suatu rencana lain yang lebih besar. Tapi inget loh kalo dia cuma penulis naskah, kita tetep sutradara, pemeran utama, sekaligus stuntmannya. Hahaha… doa gw yang keingetan gw ucapin sekarang adalah : semoga cerita di naskah itu bisa beres sebelum gw mati dan meninggalkan dunia perfilman fana ini. Sukur2 kalo gw sempet nonton premierenya dan filmnya laku di pasaran, kaya The Dark Knight… hahaha…

4 Responses to “resurrected”

  1. Oki Says:

    Untuk orang2 seperti kita, masa depan bukan ditentukan dengan menunggu, masa depan bukan ditetapkan dengan peruntungan dari orang2 di sekitar, masa depan dipilih oleh kita sendiri, make yoour own destination.

  2. nurrie Says:

    hmmm… bingung jadinya… orang2 seperti kita tuh kaya gmn yaa?

  3. Alwin'z Says:

    wuidih…
    baru baca langsung ga bisa ganti window euy…
    Hidup Joker and UUC (Ujung2nya Curhat) wkwkwk…
    Welcome to new and the hardest decades of your (our maybe) life…

  4. putri Says:

    salah win, yg bener tuh cur-col curhat colongan. batman?ituh yg saat ini gue lakukan. menjadi pahlawan yang dibutuhkan, tapi tidak diinginkan. untuk menutupi beberapa rekan sejawat yg menjadi ‘two-face’

    dan untuk si blogger, U R so damned right. menerima dengan kesadaran diri dan penuh tanggung jawab. kayak dasa darma pramuka, ah?

Leave a Reply