Seperti biasa, selain ketika nongkrong di kloset, nuansa malam selalu mendorong gw buat mikir yang lucu dan aneh aneh. Dan renungan malam ini adalah tentang kedewasaan. Sederhana sih awalnya, lagi ngerjain paper berkaitan sama suksesi pada hutan Papandayan dan menemukan sebuah pernyataan yang dibuat oleh om Richards. Katanya si om gini : “Since Tropical Rain forest is a climatic climax, it must, by definition, be in a state of equilibrium”. Kalo diartikan secara sederhana, kira-kira jadinya gini : hutan hujan tropis dewasa punya karakteristik selalu berada pada keadaan setimbang. Terminologi setimbang dalam hal ini berarti bahwa setiap muncul gangguan yang menyebabkan komposisi tumbuhan si hutan berubah, maka hutan akan secepatnya berusaha menyeimbangkan kembali komposisi itu (gw inget banget ini, secara ini salah satu pertanyaan yang gw ga bisa jawab pas sidang, damn!!!). Dalam skala kecil (individu), komposisi memang ga akan persis sama seperti sebelum terjadinya gangguan, tapi dalam skala besar (komunitas) tetap sama.
Okay, sekarang tentang proses pendewasaan hutan itu sendiri, yang jelas hutan ga punya masa akil balig kaya manusia. Artinya ga ada suatu event yang cukup signifikan yang menandai bahwa secara fisiologis hutan itu telah dewasa. Kedewasaan hutan terjadi secara bertahap, yaitu dengan perubahan terarah dari komposisi tumbuhan hutan. Tar dulu, ko bisa muncul kata perubahan?!! Jadi ternyata hutan tuh bentuknya ngga serta merta langsung dewasa, perfek, dan aduhai. Hutan juga terkena imbas seleksi alam, dan komponen tumbuhan penyusunnya beradaptasi. Jadi tumbuhan yang ngga mampu beradaptasi ya I’m sori gudbai. Tapi kalo yang mampu beradaptasi ya bisa bertahan dan jadi komponen penyusun hutan dewasa (dan meneruskan kelestarian gennya, amin om Dawkins).
Okay, enough tentang hutan dan teori seriusnya, Bu Guru… sekarang bagian yang lucunya. Mau ga mau gw jadi berpikir tentang proses pendewasaan manusia, karena ada kemiripan di dalamnya. Secara ya, menjadi tua adalah kodrat, tapi menjadi dewasa adalah pilihan! Jadi bagi gw dewasa bukan ditandai dengan event signifikan seperti periode menstruasi ato mimpi basah belaka, tapi menjadi dewasa adalah proses. Namanya juga proses, artinya ada tahapannya dong. Iya ngga? Mungkin selama proses itu terjadi, kita, mahluk-mahluk remaja alias brondong akan didera oleh serangkaian cobaan. Cobaan itu akan mengubah kita, baik itu dalam hal paradigma, bentuk tubuh (karena cobaan mendatangkan stress dan akhirnya bentuk tubuh menjadi tidak sebohay dahulu), atau prinsip sekalipun. Sampai pada akhirnya kita akan mencapai kestabilan, artinya mau sebrengsek apapun keadaan, kita akan tetap bertahan dengan prinsip kita. Penyikapan kita terhadap sesuatu hal bisa berbeda, tapi pada dasarnya ada sesuatu dalam diri kita yang ngga pernah berubah.
Nah… nah… nah… proses pendewasaan bisa gagal juga loh, seperti halnya fenomena Gunung Guntur, Garut yang selalu gagal menjadi hutan kembali dikarenakan gangguannya terlalu wahid (kebakaran periodik); maka bukan ga mungkin kalo manusia juga bisa gagal dewasa dan terjebak pada masa bronis (brondong nista) yang kritis… jadi dengan kata lain proses pendewasaan ini “dijamin tidak gagal” tapi dibaca dengan arabic style (gagal tidak dijamin)…
Bagaimana dengan kamyu-kamyu sekalian? Sempatkah meminta garansi anti gagal ketika menandatangani perjanjian untuk diturunkan ke bumi? Kalau sudah tolong dicek expiry datenya, kalo belom harap diingat kembali konsep “teliti sebelum membeli”.