3 am

August 5th, 2008 by akulaila

Aku ingin terbang kesana
melihatmu tertidur dengan lengan telungkup diatas meja
Cukup itu saja

Mungkin detik sesaat terhenti
dan aku akan tergoda menyentuhmu
Tetapi,
biarlah indah sampai disini
Karena damai di wajahmu kala itu,
serta desah nafasmu yang menjelma puisi
menjalar hangat jauh di hatiku

resurrected

August 3rd, 2008 by akulaila

Jadi ceritanya begini, Minggu malam gw dan anak2 PSIK (Hari, Gantar, “om” Ical, n Echi) nonton The dark Knight. Yah emang agak telat sih kita nontonnya, hehe… tapi gapapa, tidak mengurangi maknanya ko. Entah berapa puluh kali kata umpatan, atas dasar kagum tentunya, keluar dari mulut kita sepanjang film itu.

Banyak faktor yang bikin film itu terasa dahsyat dan memprovokasi kita. Bagi gw sendiri, faktor-faktor itu diantaranya : alurnya cepet meskipun udah ketebak, special effect yang dahsyat, simbol2 yang muncul dan memperkuat penyampaian cerita (yang bikinnya orang postmo kayanya), dan sisi Batman yang lebih manusiawi (ngga komikal mungkin ya). Tapi yang sama-sama nyentil kita adalah pesan atau kalo boleh dibilang “moral lesson” dari film itu. Yah intinya adalah seorang pahlawan ga mesti punya alur hidup yang lurus-lurus aja, for greater purpose he is willing to sacrifice other important things in his life, termasuk nama baik.

Hmm… entah tapi maknanya terasa kontekstual sekali buat kita atau kitanya yang berhasil dijebak sama sang pembuat naskah. Yang jelas kita sejenis ngerasa kalo film itu kita banget gitu loch… Hahaha… sebodo amat lah, yang jelas ini jadi bahan renungan gw juga. Terlepas dari gw yang terkadang suka menanggapi sesuatu secara berlebihan hingga dikasih gelar “drama queen”, tapi somehow gw merasa bahwa jalan hidup gw dan beberapa rekan2 gw tercinta itu ngga senormal dan selurus orang lain.

Bagi gw pribadi, tahun-tahun belakangan ini ga mudah. Entah itu masalah organisasi, pertemanan, hingga ke masalah percintaan. Kalo definisi dosa adalah melanggar norma agama dan sosial, berarti tabungan dosa gw tuh banyak banget dan gw salah satu investor rutin neraka. Gw pernah merasakan terpuruk bagai ditenggelamkan ke dasar tanah, ditampar sama tuhan berkali-kali, hingga gw merasa tidak berdaya dan hidup tidak ada artinya sama sekali. Gw pernah merasa ada sebuah lubang besar di dada gw, seperti sundel bolong, dan membuat gw merasakan perasaan yang luar biasa kosongnya. Gw pernah kesel sama tuhan dan bertanya untuk apa gw dilahirkan kalo dia udah menakdirkan hidup gw sedemikian rupa. Lihat kan betapa drama queennya gw…

Sumpah deh ga enak banget rasanya! But u know what? Those days are over. Karena gw memilih untuk berkata iya lagi pada kehidupan. Bukan karena orang lain, tapi karena diri gw sendiri. Gw memutuskan untuk menang, bukan atas diri orang lain, tapi atas diri gw sendiri. Karena meskipun alur hidup gw ga lurus-lurus aja, itu ngga berarti makna dari hidup gw ditentukan sepenuhnya oleh “dosa2”, atau orang2 yang menganggap bahwa itu adalah “dosa” dan pelakunya layak dapat tiket VIP neraka durjana.

Karena, sodara sodara… ternyata dari hal yang paling pahitlah kita dapat menjadi lebih kuat (Hmm… pada prakteknya butuh keteguhan hati tingkat tinggi loh). Dan gw percaya bahwa “the force” or whatsoever, sang penulis naskah hidup kita itu, menulis cerita pahit itu untuk suatu rencana lain yang lebih besar. Tapi inget loh kalo dia cuma penulis naskah, kita tetep sutradara, pemeran utama, sekaligus stuntmannya. Hahaha… doa gw yang keingetan gw ucapin sekarang adalah : semoga cerita di naskah itu bisa beres sebelum gw mati dan meninggalkan dunia perfilman fana ini. Sukur2 kalo gw sempet nonton premierenya dan filmnya laku di pasaran, kaya The Dark Knight… hahaha…

pada suamiku

August 3rd, 2008 by akulaila

Lelakiku tersayang,

Suatu saat jari jari ini akan menua,
melengkung dan renta
Tanpa terasa begitupun usia kita
Dunia akan terus melaju,
mungkin suatu saat kita akan tertinggal olehnya

Rambut ini akan memutih,
sekeliling kita terasa memudar
Genggaman kita perlahan melemah,
seperti halnya ingatan kita

Kita mungkin akan tertawa,
akan hidup yang ternyata sedemikian fananya
Atau mungkin karena hal-hal sederhana,
seperti si buyung yang mengucapkan kata pertamanya

Jika saat itu tiba,
yang perlu kau ingat hanya :
bahwa kamu akan selalu menorehkan warna di hatiku
bahwa kehadiranmu memberikan arti pada hidupku yang singkat dan fana ini
dan bahwa aku akan selalu milikmu

Selalu dan selalu, sayangku
Kujanjikan hatiku untukmu
Sesuatu yang tak akan pudar tergerus waktu

sebuah malam di gerbong kereta yang gelap

April 7th, 2008 by akulaila

sebuah malam di gerbong kereta yang gelap
gemeretak roda menggilas rel
lokomotif melaju
debar-debar jantungku berpacu dengan gerak kereta
seakan mengingatkanku,
bahwa tubuhku hidup

pijar cahaya di luar jendela
separuh berkelebat,
separuhnya menerangi hatiku
yang menerawang jauh
keluar dari tubuh ini

kau duduk di sebelahku
menggenggam erat tanganku
setetes air meleleh
aku merasa hidup dan ada

kosong

April 7th, 2008 by akulaila

sebuah hentakan dalam hidup
yang membangkitkan amarah
meledak bersama tangisan
sebelum aku pahami,
aku telah luruh dalam sedih tak bertepi
ternyata sebagian diriku telah direnggutnya

kini, tangis itu telah reda
namun kesedihan mengendap
tersisa di pelupuk mata

redup,
nanar tak bergeming
hambar,
tidak ada rasa

ingin aku berhenti berpura-pura
menginginkan sesuatu yang entah

jatuh cinta

March 30th, 2008 by akulaila

kamu tumbuh dalam diriku
menyeruak bermunculan begitu saja
hatiku kini mirip gelembung-gelembung sabun
yang sengaja kau tiup,
lalu terbang dan meletus di udara
plopplopplop!

sosokmu berdesiran di celah-celah hari
menguntitku tanpa henti,
bahkan diujung mimpi sekalipun

seluruh dunia telah disihir penuh warna
astaga! ada rumput berwarna merah muda…

ah, percuma saja aku bersembunyi
kerling jenaka matamu membangkitkan sesuatu yang tersembunyi
jauh didalam diriku

konsep dewasa yang lucu

March 25th, 2008 by akulaila

Seperti biasa, selain ketika nongkrong di kloset, nuansa malam selalu mendorong gw buat mikir yang lucu dan aneh aneh. Dan renungan malam ini adalah tentang kedewasaan. Sederhana sih awalnya, lagi ngerjain paper berkaitan sama suksesi pada hutan Papandayan dan menemukan sebuah pernyataan yang dibuat oleh om Richards. Katanya si om gini : “Since Tropical Rain forest is a climatic climax, it must, by definition, be in a state of equilibrium”. Kalo diartikan secara sederhana, kira-kira jadinya gini : hutan hujan tropis dewasa punya karakteristik selalu berada pada keadaan setimbang. Terminologi setimbang dalam hal ini berarti bahwa setiap muncul gangguan yang menyebabkan komposisi tumbuhan si hutan berubah, maka hutan akan secepatnya berusaha menyeimbangkan kembali komposisi itu (gw inget banget ini, secara ini salah satu pertanyaan yang gw ga bisa jawab pas sidang, damn!!!). Dalam skala kecil (individu), komposisi memang ga akan persis sama seperti sebelum terjadinya gangguan, tapi dalam skala besar (komunitas) tetap sama.

Okay, sekarang tentang proses pendewasaan hutan itu sendiri, yang jelas hutan ga punya masa akil balig kaya manusia. Artinya ga ada suatu event yang cukup signifikan yang menandai bahwa secara fisiologis hutan itu telah dewasa. Kedewasaan hutan terjadi secara bertahap, yaitu dengan perubahan terarah dari komposisi tumbuhan hutan. Tar dulu, ko bisa muncul kata perubahan?!! Jadi ternyata hutan tuh bentuknya ngga serta merta langsung dewasa, perfek, dan aduhai. Hutan juga terkena imbas seleksi alam, dan komponen tumbuhan penyusunnya beradaptasi. Jadi tumbuhan yang ngga mampu beradaptasi ya I’m sori gudbai. Tapi kalo yang mampu beradaptasi ya bisa bertahan dan jadi komponen penyusun hutan dewasa (dan meneruskan kelestarian gennya, amin om Dawkins).

Okay, enough tentang hutan dan teori seriusnya, Bu Guru… sekarang bagian yang lucunya. Mau ga mau gw jadi berpikir tentang proses pendewasaan manusia, karena ada kemiripan di dalamnya. Secara ya, menjadi tua adalah kodrat, tapi menjadi dewasa adalah pilihan! Jadi bagi gw dewasa bukan ditandai dengan event signifikan seperti periode menstruasi ato mimpi basah belaka, tapi menjadi dewasa adalah proses. Namanya juga proses, artinya ada tahapannya dong. Iya ngga? Mungkin selama proses itu terjadi, kita, mahluk-mahluk remaja alias brondong akan didera oleh serangkaian cobaan. Cobaan itu akan mengubah kita, baik itu dalam hal paradigma, bentuk tubuh (karena cobaan mendatangkan stress dan akhirnya bentuk tubuh menjadi tidak sebohay dahulu), atau prinsip sekalipun. Sampai pada akhirnya kita akan mencapai kestabilan, artinya mau sebrengsek apapun keadaan, kita akan tetap bertahan dengan prinsip kita. Penyikapan kita terhadap sesuatu hal bisa berbeda, tapi pada dasarnya ada sesuatu dalam diri kita yang ngga pernah berubah.

Nah… nah… nah… proses pendewasaan bisa gagal juga loh, seperti halnya fenomena Gunung Guntur, Garut yang selalu gagal menjadi hutan kembali dikarenakan gangguannya terlalu wahid (kebakaran periodik); maka bukan ga mungkin kalo manusia juga bisa gagal dewasa dan terjebak pada masa bronis (brondong nista) yang kritis… jadi dengan kata lain proses pendewasaan ini “dijamin tidak gagal” tapi dibaca dengan arabic style (gagal tidak dijamin)…

Bagaimana dengan kamyu-kamyu sekalian? Sempatkah meminta garansi anti gagal ketika menandatangani perjanjian untuk diturunkan ke bumi? Kalau sudah tolong dicek expiry datenya, kalo belom harap diingat kembali konsep “teliti sebelum membeli”.

aku

March 15th, 2008 by akulaila

boleh saja binar itu redup sesekali
namun baranya takkan pernah mati
seperti kisah tetes air,
yang selalu menemukan caranya menjelma hujan kembali

hitam dan biru

February 14th, 2008 by akulaila

dia…
dengan begitu saja dia hadir,
seorang lelaki dengan getir dan ruang-ruang sunyi

kamu…
kamu seperti langit

hitam penuh misteri,
yang dalam kelam meraup kegelisahan
menaungi sisi-sisi hatiku yang hampir beku
lalu luruh seperti hujan,
membebaskan asa yang terpendam

dan birumu…
meluas tak berbatas
menyeruak mengangkasa
menguapkan batas-batas :
hal-hal yang tak tercerna oleh akal

semua terangkum indah padamu

biarkan saja celoteh dan hingar bingar dunia yang takkan pernah usai itu
karena kau, aku, kita…
akan selalu memiliki ruang kembara jiwa : istirah terindah tempat kita berpulang

sebuah panggilan dari kegelapan

September 6th, 2007 by akulaila

“kemari… kemarilah…”

katanya :
biar kudekap dirimu
agar semakin nyata kesedihanmu
terang hanya akan membuatmu silau
gelaplah yang akan menjagamu
merengkuhmu dalam ketiadaan
sunyi… untukmu sendiri
itu kan yang kau butuhkan?

aku mengerti setiap kegalauanmu
bersandarlah padaku
biarkan alur hampaku mengisi setiap kesenyapan jiwamu

kemarilah
tak ada yang perlu kau risaukan
aku menerimamu apa adanya
karena semua buram tak terlihat
itu lebih baik dari pijar yang palsu